
Dok. Anton Nursamsi
Sejarah yang Terulang
- By Admin --
- Saturday, 30 Aug, 2025
KOPERZONE - Tanggal 25 Agustus 2025 menjadi saksi bisu terulangnya sejarah kelam bangsa ini. Gelombang demonstrasi besar-besaran kembali mengguncang, mengingatkan kita pada peristiwa serupa di depan Gedung Bawaslu beberapa tahun silam.
Bedanya, kali ini bukan lagi sengketa hasil pemilu yang menjadi pemicu, melainkan akumulasi kekecewaan mendalam terhadap wakil rakyat di DPR RI.
Pemicu utamanya adalah isu kenaikan gaji dan tunjangan anggota DPR yang mencuat di tengah himpitan ekonomi rakyat.
Ironisnya, di saat masyarakat berjuang keras menghadapi kenaikan pajak dan sulitnya mencari pekerjaan, para wakil rakyat justru asyik berjoget ria di Gedung DPR.
Aksi ini bukan hanya dianggap tidak sensitif, tetapi juga menjadi tamparan keras bagi rakyat yang merasa tercekik.
Seolah-olah kalian berkata, "Enjoy aja, men! Kita jogetin aja gak sih?"
Video anggota DPR yang berjoget riang itu pun dengan cepat menjadi viral di media sosial, memicu gelombang kemarahan warganet.
Tagar #DPRTidakAmanah menggema di platform X, menjadi wadah bagi ekspresi kekecewaan dan kritik terhadap DPR.
Meme-meme satir dan video parodi pun bermunculan, menyindir gaya hidup mewah para wakil rakyat yang tidak sejalan dengan realitas kehidupan masyarakat.
Pernyataan Puan Maharani yang menjanjikan bahwa DPR akan menerima aspirasi rakyat, ternyata hanyalah isapan jempol belaka.
Pintu Gedung DPR yang seharusnya terbuka lebar, justru dipagari dan dibeton, menambah kekecewaan massa. Kericuhan pun tak terhindarkan, dengan aparat keamanan menjadi sasaran amukan massa.
Insiden tragis terlindasnya pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan oleh kendaraan Brimob semakin memperburuk situasi, memicu gelombang demonstrasi yang lebih besar dan meluas ke berbagai daerah.
Di tengah kekacauan ini, tuntutan massa menjadi rancu dan menggantung. Fokus rakyat teralihkan dari DPR RI menjadi konflik antara rakyat dan aparat.
Buzzer pun bergerak untuk meredam amarah massa dan mengajak damai, namun tuntutan tetap tidak jelas bagaimana akhirnya. DPR RI tetap bisa duduk dengan tenang, sementara rakyat menjadi korban.
Kasus dugaan manipulasi data kemiskinan oleh pemerintah semakin memperburuk kepercayaan publik.
Data yang dirilis pemerintah dianggap tidak sesuai dengan realitas di lapangan, memicu kemarahan warganet dan memperkuat keyakinan bahwa pemerintah tidak peduli terhadap nasib rakyat kecil.
Solidaritas masyarakat pun muncul dalam bentuk penggalangan dana online untuk membantu biaya pengobatan Affan Kurniawan dan memberikan santunan kepada keluarganya.
Aksi ini menunjukkan bahwa di tengah kekecewaan dan kemarahan, masih ada harapan dan kepedulian di antara sesama anak bangsa.
Demonstrasi 25 Agustus 2025 adalah cermin buram dari kondisi bangsa ini. Sejarah seolah berulang, menunjukkan bahwa pemerintah dan DPR belum belajar dari kesalahan masa lalu.
Rakyat hanya ingin diperhatikan dan disejahterakan, namun aspirasi mereka seringkali diabaikan dan bahkan dikekang.
Negara ini mengaku sebagai negara demokrasi, namun mengapa suara rakyat selalu dihalangi? Sampai kapan kita akan terus mengulangi kesalahan yang sama?
Semoga para wakil rakyat segera sadar dan bertindak, sebelum amarah rakyat semakin membara dan sulit dipadamkan.
Ciamis, 30 Agustus 2025
Penulis: Anton Nursamsi (Junn_Badranaya – Penulis dan Jurnalisme Milenial)
OPINI