Kepala Lapas Kelas IIA Bekasi, Dedy Cahyadi (Istimewa) Lapas Kelas IIA Bekasi Berikan Pembinaan UMKM untuk WBP dan Digitalisasi untuk Kualitas Pelayanan kepada Masyarakat
Monday, 26 Oct 2026 17:00 pm

Koperzone

KOPERZONE - Kembali ke masyarakat setelah menjalani masa pidana bukan perkara mudah bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP). Persaingan mencari pekerjaan yang semakin ketat, ditambah stigma negatif yang masih melekat, menjadi tantangan tersendiri dalam membangun kehidupan baru. Menghadapi kondisi tersebut, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bekasi mengandalkan pembinaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk membekali warga binaan dengan keterampilan produktif dan peluang berwirausaha.

Kepala Lapas Kelas IIA Bekasi, Dedy Cahyadi, mengatakan program pembinaan tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan WBP agar memiliki kemampuan yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke tengah masyarakat.

Menurut Dedy, ketatnya persaingan di dunia kerja bukan hanya menjadi persoalan bagi masyarakat umum, termasuk kalangan muda dan lulusan baru, tetapi juga berpotensi menjadi hambatan lebih besar bagi mantan warga binaan yang masih menghadapi pandangan negatif dari lingkungan sosialnya.

“Maka dari itu, Lapas Kelas IIA Bekasi terus memfokuskan pembinaan UMKM sebagai modal keterampilan untuk WBP ketika nantinya kembali ke masyarakat,” ujar Dedy saat ditemui di kantornya, Selasa (27/10/2026).

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Lapas Bekasi mengembangkan sejumlah kegiatan produktif yang memberikan pengalaman langsung kepada warga binaan. Salah satunya melalui budidaya ayam petelur di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), yang dikelola dengan ribuan ekor ayam.

Kegiatan ini menjadi sarana bagi WBP untuk mempelajari pengelolaan peternakan, manajemen produksi, serta aktivitas usaha yang berkaitan dengan kebutuhan pangan. Dengan keterampilan tersebut, warga binaan diharapkan memiliki gambaran mengenai peluang usaha yang dapat dikembangkan secara mandiri.

Pembinaan juga dilakukan melalui pelatihan pengolahan pangan. WBP diberikan keterampilan memproduksi berbagai olahan makanan, termasuk teknik pembekuan dan pengemasan produk agar memiliki nilai tambah dan berpotensi dipasarkan.

Tidak berhenti di sektor peternakan dan pangan, Lapas Bekasi turut mengembangkan keterampilan pembuatan produk kerajinan. Warga binaan dibekali kemampuan teknis, pengetahuan dasar manajemen usaha, serta strategi pemasaran untuk memperluas peluang penjualan hasil produksi.

Berbagai program tersebut diarahkan agar pembinaan di dalam lapas tidak sebatas memberikan kegiatan selama menjalani masa pidana, tetapi juga menghasilkan keterampilan yang dapat menjadi modal ekonomi setelah warga binaan bebas.

Di tengah upaya membangun kemandirian WBP, Lapas Bekasi juga melakukan pembenahan pelayanan publik melalui pemanfaatan teknologi digital. Inovasi tersebut diwujudkan melalui aplikasi Jawara Smart yang memungkinkan masyarakat mengakses layanan pemasyarakatan secara lebih mudah dan transparan.

Dedy menjelaskan, aplikasi Jawara Smart memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memantau tahapan pengajuan layanan integrasi, termasuk pembebasan bersyarat (PB). Masyarakat dapat memasukkan persyaratan dan memeriksa perkembangan pengajuan melalui perangkat masing-masing tanpa harus berkali-kali datang ke lapas.

“Di situ juga masyarakat bisa mengakses data integrasi, memasukkan persyaratan, mengecek sampai di mana, dan lain sebagainya tanpa harus datang,” ungkapnya.

Menurut Dedy, pemanfaatan teknologi tersebut sekaligus memperkuat pengawasan internal. Jawara Smart dilengkapi sistem pemantauan yang memungkinkan pimpinan melihat kinerja petugas secara real time, sehingga pelaksanaan pelayanan dapat diawasi dengan lebih baik.

Ia berharap digitalisasi tersebut dapat menekan potensi pelanggaran integritas, ketidakpatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), serta praktik pungutan liar (pungli) dalam pelayanan pemasyarakatan.

“Jadi tidak perlu khawatir lagi dengan potensi pelanggaran integritas, pungli, dan lain sebagainya. Dengan Jawara Smart, mudah-mudahan kami di Lapas Bekasi bisa menjawab semua kegundahan, keresahan, dan kekhawatiran masyarakat dengan digitalisasi yang ada,” tegas Dedy.

Penguatan pembinaan UMKM dan penerapan layanan digital ini menjadi bagian dari upaya Lapas Kelas IIA Bekasi dalam meningkatkan kualitas pembinaan sekaligus pelayanan kepada masyarakat. Di satu sisi, warga binaan dipersiapkan agar memiliki keterampilan untuk membangun masa depan yang lebih mandiri; di sisi lain, masyarakat didorong mendapatkan pelayanan yang lebih praktis, transparan, dan akuntabel.(FS)***