Longsor di Garut Banjir dan Longsor Landa Pasirwangi Garut, Akses Desa Terputus dan Warga Terancam
Sunday, 15 Feb 2026 17:00 pm

Koperzone

KOPERZONE - Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Garut sejak Minggu (15/2/2026) memicu bencana banjir dan tanah longsor di Kecamatan Pasirwangi. Peristiwa ini menyebabkan akses jalan desa terputus serta mengancam sejumlah rumah warga.

Banjir dilaporkan terjadi di Desa Padamukti, tepatnya di Kampung Cigarukgak. Meluapnya Sungai Cigarukgak disebabkan oleh tumpukan material kayu berukuran besar yang terbawa arus dan tersangkut di bawah jembatan. Akibatnya, aliran air tersumbat dan meluber ke permukiman warga, merendam beberapa rumah.

Menanggapi kondisi tersebut, aparat gabungan TNI-Polri bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut segera turun ke lokasi. Mereka melakukan evakuasi serta pembersihan sungai dengan memotong kayu besar menggunakan gergaji mesin agar aliran air kembali normal.

“Penyebab utama banjir adalah kayu besar yang menyumbat sungai dan tersangkut di jembatan. Petugas langsung melakukan pemotongan agar debit air bisa kembali lancar,” ujar Kasi Humas Polres Garut, Ipda Adi Susilo, Minggu (15/2/2026).

Selain banjir, bencana tanah longsor juga terjadi di Desa Sarimukti, Kampung Citorondol, di dua titik berbeda. Longsor pertama memiliki ketinggian sekitar 10 meter dan lebar 5 meter, yang berjarak hanya sekitar 5 meter dari dua rumah warga sehingga berpotensi membahayakan keselamatan penghuni.

Sementara longsor kedua dengan tinggi sekitar 7 meter dan lebar 4 meter menutup total akses jalan desa, sehingga aktivitas warga terganggu. Tim gabungan bersama masyarakat setempat melakukan penanganan darurat dengan membersihkan material longsoran secara manual.

“Dua titik longsor ini sama-sama memerlukan penanganan cepat. Yang satu mengancam rumah warga, sementara yang lainnya menutup akses jalan desa,” jelas Ipda Adi.

Hingga saat ini, proses evakuasi dan pembersihan masih terus dilakukan. Petugas juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di wilayah Garut.

Masyarakat diminta segera melapor apabila menemukan tanda-tanda bencana seperti retakan tanah, pergerakan lereng, atau peningkatan debit air sungai, guna mendukung upaya mitigasi dan deteksi dini. (AN)***